Kesadaran Memilah Sampah
Faktor “MALAS” atau “KEPRAKTISAN” merupakan salah satu terjadinya penumpukan sampah di rumah tangga. Banyak orang yang sehabis memasak dan anak-anak kecil yang habis makan makanan ringan dengan seenaknya membuang sampah dimana saja tanpa memilah mana sampah organic dan mana yang anorganik. Dan banyak orang menganggap memilah sampah merupakan hal yang sangat merepotkan, dan mereka pikir semua sampah sama saja sehingga tak perlu adanya pemilahan.
Padahal banyak iklan di televisi yang sedang gencar menayangkan tentang pemilahan sampah. Dimana terbagi menjadi 2 yaitu, sampah organic dan anorganik. Dan ajakan seperti itu tidak akan berhasil kalau nggak dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu rumah. Sedangkan orang yang mendiami rumah tersebut tidak perduli dengan adanya pemilahan sampah tersebut.
Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan adanya pemilahan sampah tersebut. Sebagai contoh : Sampah organic misalnya sisa-sisa sayuran, sampah daun yang berguguran. Sampah tersebut dapat kita daur ulang menjadi pupuk dan sebagainya. Sedangkan samapah anorganik misalnya plastic bekas minuman/makanan ringan, kaleng-kaleng susu atau soft drink. Sampah tersebut dapat kita daur ulang menjadi suatu benda yang lebih bermanfaat seperti kerajinan tangan dan sebagainya. Terkadang, hal yang tidak terpikirkan tersebut dapat menghasilkan uang.
Tapi banyak orang yang nggak mau peduli dengan kegiatan mendaur ulang tersebut. Padahal kegiatan tersebut sangat membantu untuk mengurangi sampah yang menumpuk dilingkungan sekitar kita. Selain itu kegiatan daur ulang tersebut dapat meningkatkan kreatifitas kita.
Selain itu, pemilahan sampah harus dicerminkan dalam truck pengangkut sampah yang disediakan oleh pemerintah. Kalau kita lihat, truck pengangkut sampah mencampur semua sampah tanpa adanya pemilahan. Hal tersebut mengesankan buat apa kita memilah sampah jika pada akhirnya dicampur tidak karuan. Mungkin perlu adanya 2 macam truck pengangkut sampah. Mana yang untuk sampah organic dan mana yang untuk sampah anorganik untuk mempermudah melakukan daur ulang.
Kesadaran dan kerjasama antara masyarakat dengan petugas kebersihan perlu ditingkatkan untuk mewujudkan lingkungan sekitar kita yang bebas sampah. Dan setidaknya menjadikan sampah tersebut “tertib”. Serta adanya pelatihan untuk membangkitkan kesadaran untuk memilah sampah. Marilah kita sebagai warga negara yang baik menjauhkan kata “MALAS” dan “KEPRAKTISAN” sebagai alasan untuk tidak memilah sampah.
January 24, 2010

